Mojokerto, Liputan10.id — Gelombang aksi unjuk rasa dari pekerja pabrik baja HK di Desa Parengan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, menjadi bukti nyata adanya persoalan serius dalam hubungan industrial di lingkungan perusahaan tersebut.
Dalam aksi yang berlangsung di depan area pabrik, para buruh membawa berbagai banner berisi tuntutan yang menyoroti aspek kesejahteraan, khususnya terkait upah dan jaminan keselamatan kerja. Aksi ini tidak hanya sekadar bentuk protes, namun juga seruan agar perusahaan lebih menghargai peran pekerja sebagai tulang punggung produksi.
Saat tim awak media turun langsung ke lokasi, situasi di lapangan menunjukkan massa aksi yang solid dan terorganisir. Dalam wawancara singkat, salah satu karyawan, Prianto, menyampaikan keluhannya dengan penuh penekanan.
“Selain soal upah, kita mempertaruhkan tenaga dan keselamatan. Tapi hak kami diabaikan,” ungkapnya dengan nada penuh semangat.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi para buruh tidak bisa dipandang sebelah mata. Risiko kerja di sektor industri baja yang tinggi seharusnya diimbangi dengan perlindungan serta kompensasi yang layak.
Aksi berlangsung dalam pengawasan aparat keamanan dan relatif kondusif, meski diwarnai dengan orasi-orasi keras dari para demonstran. Mereka mendesak agar pihak perusahaan segera membuka ruang dialog dan memberikan solusi konkret atas tuntutan yang disampaikan.
Minimnya respon dari pihak manajemen hingga saat ini menimbulkan kekhawatiran akan berlarutnya konflik. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi memicu ketegangan yang lebih besar dan berdampak pada stabilitas operasional perusahaan.
Aksi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara kepentingan perusahaan dan hak pekerja harus dijaga. Tanpa itu, gesekan seperti ini akan terus berulang dan merugikan semua pihak.
(Yustinia)
![]()
