Mojokerto, Liputan10.id – Sulastri lansia 63 tahun yang tinggal sendirian dikawasan tanah milik perhutani di Dusun Tegalan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto kondisinya memprihatinkan dan kurang perhatian dari pemerintah setempat.
Selama ini Sulastri atau yang biasa di kenal (Mak tri) bakul kopi 63 tahun bercerita bahwa dirinya jarang dapat bantuan dari pemerintah desa setempat.
Kegiatan Mak tri sehari-hari menjual kopi dan nasi seadanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun pemerintah Desa Trowulan dan dinas sosial kabupaten Mojokerto menurut Sulastri kurang perhatian terhadap dirinya.
Saat awak media sedang makan dan ngopi diwarungnya pada Jum,at (29/05/2025), sempat menanyakan apakah ibu Sulastri gak pernah dapat bantuan. “Gee kadang angsal nak sembako niku cuma gee jarang mboten koyok liyane rutin Ben Wulan,” (Ya kadang dapat sembako cuma ya jarang tidak seperti lainnya rutin setiap bulan dapat),” tuturnya awak media yang datang.
“Terose alasane pamonge nak Kulo nunut Ten tanah perhutani Ten mriki pilih kasih nak, dulur-dulure tok seng di data lawong pegawe negeri gadah mobil Gee angsal sembako terus RT ne Gee angsal nak,” imbuhnya sambil memendam kekesalan.
Tentunya hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah kabupaten Mojokerto, karena Semua warga Indonesia yang kurang mampu berhak mendapatkan kesejahteraan atau bantuan sosial dari pemerintah, apa lagi seperti Sulastri janda lansia 63 tahun yang seharusnya sudah pensiun kini masih berjualan kopi dan nasi untuk menyambung hidupnya.
Sulastri berharap kepada pemerintah Kabupaten Mojokerto, terutama bupati Mojokerto (Gus barra), dinas sosial, juga Kepala Desa Trowulan untuk melihat secara langsung dan mendata dengan benar orang-orang yang membutuhkan bantuan supaya tepat sasaran. (yus)
![]()
