Foto ilustrasi
Jombang, Liputan10.id – Salah satu amalan sunnah di bulan Dzulhijjah adalah puasa Arafah, atau puasa pada hari Arafah atau hari kesembilan Dzulhijjah.
Keutamaan puasa Arafah adalah orang yang menjalankannya akan dihapuskan dosanya selama dua tahun.
Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab,
“Puasa Arafah menghapus dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang” HR. Muslim
Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak menjalankan rukun Islam kelima, yaitu ibadah haji.
Puasa Arafah tidak dianjurkan bagi para jamaah haji sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak berpuasa pada hari itu.
Sejarah puasa Arafah tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam (a.s) yang diperintahkan oleh Allah SWT lewat mimpi untuk menyembelih putranya Nabi Ismail a.s.
Nabi Ibrahim a.s sering berkunjung ke Makkah untuk menemui putranya, Nabi Ismail, yang tinggal sebatang kara di tanah tandus bersama ibunya Siti Hajar.
Ketika Nabi Ismail masih remaja, Nabi Ibrahim a.s bermimpi di mana Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya sendiri yaitu Nabi Ismail a.s
Mimpi yang muncul pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijah membingungkan Nabi Ibrahim. Karena dia sangat paham bahwa mimpi Nabi adalah wahyu dari Allah. Dengan kata lain, dia harus menjalankan perintah Tuhan.
Nabi Ibrahim a.s terus memikirkan mimpi itu. Sebagai seorang ayah, wajar jika tidak ingin mengorbankan putra yang telah dinantikan selama bertahun-tahun. Namun sebagai seorang nabi, ia harus melaksanakan perintah itu.
Gejolak yang mencengkeram pikiran Nabi Ibrahim a.s akhirnya membawanya pada keyakinan akan mengorbankan putranya Nabi Ismail a.s.
Keyakinan Nabi Ibrahim untuk mentaati perintah Allah terjadi pada hari ke-9 Dzulhijah. Hari keyakinan ini disebut Hari Arafah.
Ia kemudian pergi ke Makkah untuk menemui Nabi Ismail a.s dan menyampaikan perintah Allah.
Nabi Ismail, sebagai seorang anak yang patuh dan berbakti kepada orang tuanya, meminta ayahnya untuk mematuhi perintah Allah tersebut.
Nabi Ismail a.s berkata,
“Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku Insya Allah sebagai seorang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu, agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak bergerak-gerak hingga menyusahkan ayah.
Kedua, agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku melihatnya.
Ketiga, tajamkanlah pedangmu dan percepatlah pelaksanaan penyembelihan agar meringankan penderitaan dan rasa pedihku.
Keempat dan yang terakhir, sampaikanlah salamku kepada ibuku, berikanlah kepadanya pakaianku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.” Dikutip dari 25 Kisah Para Nabi
Kemudian Nabi Ibrahim a.s memeluk puteranya sambil berkata,
“Bahagianya aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua, yang dengan ikhlas menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah.” Dikutip dari 25 Kisah Para Nabi
Waktu penyembelihan tiba yakni tepat tanggal 10 Dzulhijjah. Nabi Ibrahim a.s sendiri yang melakukan penyembelihan terhadap Nabi Ismail.
Namun, proses penyembelihan ini berkali-kali gagal. Hingga Nabi Ibrahim a.s merasa telah gagal menjalankan perintah Allah.
Kemudian, Allah berfirman dalam surat Ash-Shaaffaat ayat 104-106,
Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim, Sungguh engkau telah membenarkan mimpimu itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesunggunya ini benar-benar suatu ujian yang nyata,” QS. Ash-Shaaffaat : 104-106
Sebagai imbalannya, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s untuk menyembelih kambing yang ada di sebelahnya. Beliau pun menyembelih kambing tersebut.
Kisah ini diceritakan dalam Al Qur’an surat Ash-Shaafaat ayat 100-113. Untuk mengabadikan keyakinan Nabi Ibrahim a.s, Allah Ta’ala mensyari’atkan puasa sunnah pada hari Arafah tersebut. (red)
Editor : cwr/tim
![]()
