Dispertan Jombang Beri Dukungan Untuk Tingkatkan Produksi Tanaman Perkebunan

Jombang, Liputan10.id – Dinas Pertanian Jombang berikan dukungan untuk tingkatkan produksi tanaman perkebunan khususnya komoditas perkebunan yang semakin tahun menunjukkan kenaikan positif dari segi produksi dan produktivitas tentu dengan didukung oleh kegiatan pemenuhan sarana budidaya sampai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia petani di kabupaten jombang dari hulu sampai dengan hilirnya.

Sektor pertanian dan perkebunan memang bukan pendongkrak utama ekonomi Jombang, namun produksi dan produktivitas hasil pertanian sangat mempengaruhi bergeraknya sektor lain.

Perkembangan sektor lain di Kab. Jombang memiliki korelasi positif dengan sektor pertanian, dalam arti dimana peningkatan sektor pertanian akan selalu diimbangi oleh peningkatan sektor lain yang ada. Sehingga bisa dikatakan bahwa Pertanian merupakan soko guru pembangunan perekonomian di Kab. Jombang.

“Sub sektor perkebunan merupakan salah satu penyumbang PDRB terbesar pada sektor pertanian. Pada tahun 2022 pertumbuhan PDRB sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai 45. 930 milyar rupiah naik dari tahun 2021 sebesar 41.747 milyar,” terang M.Rony Kepala Dinas Pertanian Jombang, Rabu siang (03/04/2024).

Pengembangan sektor perkebunan di kabupaten jombang semakin hari menunjukan tren positif mengingat potensi yang luar biasa, dengan komoditas unggulan seperti tembakau, tebu, dan kopi menjadikan peluang pengembangan kedepan dalam rangka peningkatan pendapatan petani perkebunan.

Dinas Pertanian Kabupaten Jombang memberikan perhatihan sepenuhnya terhadap peningkatan produksi pertanian khususnya komoditas perkebunan yang semakin tahun menunjukkan kenaikan positif dari segi produksi dan produktivitas tentu dengan didukung oleh kegiatan pemenuhan sarana budidaya sampai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia petani di kabupaten jombang dari hulu sampai dengan hilirnya.

“Kabupaten Jombang selain memiliki potensi produksi tanaman pangan, komoditas perkebunan merupakan komoditas potensial yang layak dikembangkan di Kabupaten Jombang. Seperti halnya komoditas tembakau,
Kabupaten Jombang merupakan penghasil tembakau, maka dari itu kegiatan peningkatan produksi tembakau didukung sepenuhnya oleh sumberdana dari APBD dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau. Adapun kegiatan yang didanai DBHCHT itu, dipilih dan diprioritaskan untuk tujuan meningkatkan kesejahteraan warga, khususnya petani.” Ujar Rony.

“Selain itu juga kegiatan pembinaan lingkungan sosial secara umum. Sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor 215 Tahun 2021 ada lima koridor kegiatan-kegiatan yang bisa didanai dengan DBHCHT.
Yakni, kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal,” Imbuhnya.

Sesuai perintah Permenkeu itu pula, masing-masing kepala daerah berkewajiban untuk menggerakkan dan mendorong kegiatan dari sumber dana tersebut.
Sampai dengan tahun 2021, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang telah melepas dua varietas lokal tembakau andalan Kabupaten Jombang diantaranya : Varietas Jinten Pakpie dan Manilo, Varietas Jinten Pakpie 2.
Bicara sebaran varietas, di kabupaten jombang juga terdapat varietas rejeb tulungagung, beberapa petani mengembangkan varietas ini dikarenakan adanya permintaan pasar. Dengan dilepasnya dua varietas diatas,

“harapan kami agar petani tembakau dikabupaten jombang mau mengembangkan budidaya tanaman tembakau dengan menggunakan varietas tembakau lokal,” harap Kadis Pertanian Jombang.

Sebaran areal tanaman tembakau di Kabupaten Jombang terfokus pada daerah Utara Sungai Brantas meliputi Kecamatan Ploso, Kudu, Plandaan, Ngusikan dan Kabuh dengan pola tanam padi – tembakau. sedikit bahkan jarang yang menanam palawija dikarenakan mindset petani di utara brantas lebih mengutamakan tanam tembakau, maka dari itu ada semboyan #saklawasenandurmbako.
Kewajiban Pemerintah Kabupaten Jombang Dalam Pengembangan Varietas Unggul Lokal Setelah Dilepas Oleh Menteri Pertanian adalah menlakukan pengembangan selama 5 Tahun dan Kabupaten Jombang sudah memiliki 2 penangkar benih Tembakau yg sudah memilih surat rekomendasi produsen Benih, sehingga Kabupaten Jombang bisa memperbanyak benih tembakau sendiri dengan hasil benih tembakau yang bersertifikasi dan berlabel untuk menunjang peningkatan produksi dan produktivitas.

Dukungan pemerintah kabupaten jombang dalam meningkatkan kesejahteraan petani tembakau jombang melalui pengganggaran APBD tahun 2023 telah mengalokasikan sarana dan prasarana penunjang budidaya tanaman tembakau seperti :
– Motor angkut roda 3 sebanyak 10 unit
– Pompa air dan selang sebanyak 20 unit
– Pompa air diesel 4 inch sebanyak 14 unit
– Traktor roda 2 singkal sebanyak 10 unit
– Pupuk NPK Tembakau 25.000 kg
– Pupuk KNO3 tembakau 25.000 kg
– Mesin Alat Rajang sebanyak 13 Unit
– Terpal sebanyak 63 buah
– Timbangan duduk sebanyak 23 buah
– Widik sebanyak 3000 buah
– Pembangunan Jalan Usaha Tani sepanjang 1690m2
– Pembangunan Jaringan Irigasi sepanjang 449m2

Selain itu melalui dana DBHCHT tahun 2023, Dinas Pertanian Kab Jombang Fokus dalam peningkatan kapasitas sdm petani tembakau dalam bentuk : Pelatihan Budidaya Tembakau sampai dengan Pasca panen tembakau, Demplot Pembenihan Tembakau 1 ha, Demplot Varietas Unggul Tembakau 1,5 ha, Demplot Identifikasi Pemupukan Berimbang Tembakau dengan Mengunakan Vermikompos yang merupakan kerjasama Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Pengembangan kemitraan tembakau , Festival Perkebunan.

“Semua sarana budidaya dan pembinaan pelatihan merupakan ikhtiar pemerintah kabupaten jombang dalam rangka meningkatkan produksi tembakau,” ujarnya

Dalam rangka regenerasi petani tembakau, pada tahun 2023-2024 Dinas Pertanian mengalokasikan kegiatan Agropreneur muda yang dilaksanakan oleh poktan rayung kecamatan kudu dimana dalam prodram agropreneur wajib melibatkan milenial (usia 24 – 39 tahun) dalam berusahataninya dan wajib menjalin kemitraan (PR Jaleca)

“Dan alhamdulillah tahun ini kabupaten Jombang terpilih menjadi Juara I Agropreneur award se Jawa Timur (mendapat 4 kambing untuk bisa di manfaatkan dala menunjang usahatani tembakau),” ucapnya dengan bangga.

Dalam rangka pencapaian swasembada gula konsumsi tahun 2023, Dinas Pertanian Kabupaten Jombang telah mengalokasikan kegiatan yang bersifat meningkatkan produksi tebu khususnya di kabupaten Jombang. diantaranya Program Bongkar Ratoon sebesar 300 ha dan Rawat Ratoon sebesar 600 ha dengan paket bantuan sarana produksi seperti pupuk majemuk, pupuk organik dan obat obatan. Paket bantuan untuk kegiatan bongkar ratoon antara lain : pupuk majemuk 500 kg/ha, pupuk organik 15 liter/ha, obat obatan 5 liter/ha dan biaya rawat ratoon 25 hok/ha (cpcl penerima berasal dari program KBD (Kebun Benih Datar) di Tahun 2021 sehingga berkelanjutan)Paket bantuan untuk kegiatan rawat ratoon antara lain : pupuk majemuk 500 kg/ha, pupuk organik 15 liter/ha, obat obatan 5 liter/ha dan biaya rawat ratoon 22 HOK/ha).
Hal ini semata upaya pemerintah Kabupaten Jombang dalam meningkatkan produksi tebu dan gula. Mengingat potensi tebu biasanya diatas 100.000 ton/hektar sampai 120.000 ton/hektar dengan rendemen diatas 8 %, kedepan Dinas Pertanian akan memperkuat kemitraan antara petani dan industri mulai dari kegiatan mulai dari on farm sampai off farm.

“selain itu upaya pembinaan kelompok tani tebu dan membangun jaringan antar KPTR dan Pabrik Gula akan lebih ditingkatkan sehingga terbangun sistem yang bersifat menguntungkan satu sama lain,” Ungkapnya.

Berbagai cara akan terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas gula nasional. Salah satunya melalui kemitraan antara petani tebu dengan perusahaan industri atau pabrik gula (PG). harapan pemerintah, tidak ingin disaat produktivitas dan rendemen tinggi, justru mengalami masalah pada saat pengolahannya begitu juga sebaliknya, ketika industri mengharapkan bahan baku yang bermutu dan banyak, tidak terkendala dengan bahan bakunya. Karena itu dari sisi hulu Dinas Pertanian Kabpaten Jombang akan terus mendorong optimalisasi areal perkebunan untuk menghasilkan produksi tinggi dan bagus.

Sementara di hilir industri juga harus membeli tebu petani dengan harga yang bagus serta menghasilkan gula yang bagus.
Dengan demikian, untuk memperkuat kemitraan antara kelompok tani dengan perusahaan, diharapkan adanya sinergisitas antara pemerintah daerah (Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan dan Perindustrian dan Stakeholder lain) dengan harapan petani pada saat menjual hasil panen ke PG dengan mutu yang baik, maka akan mendapatkan harga wajar atau sesuai.

Sama halnya dengan industri (PG) disaat membutuhkan bahan baku, industri akan mendapatkan bahan baku yang baik, terutama dari perkebunan disekitar PG. Tujuannya agar biaya pengiriman bisa lebih kompetitif dibandingkan dengan bahan baku impor. Hal ini sesuai dengan visi dan misi pemerintah untuk lebih mendorong bahan baku dari petani dalam negeri.

Selain itu Dinas Pertanian Kabupaten Jombang tidak henti hentinya memberikan dukungan penuh bagi petani kopi khususnya di kecamatan wonosalam.

“Kita tahu bahwa Kabupaten Jombang merupakan penghasil Kopi excelsa atau yang biasa disebut asisa ini merupakan varietas kopi yang paling banyak tumbuh di kawasan sekitar lereng gunung Anjasmoro,” ujarnya.

Ketinggian areal tanam rata-rata 600-1000mdpl. kopi ekselsa mempunyai citarasa yang unik dan eksotis. Kopi ekselsa Wonosalam mempunyai citarasa fruity, tasty, floraly, chocolaty, dan creammy sehingga menjadikan kopi ini memiliki kekhasan tersendiri.

Meskipun sebagai salah satu produsen besar kopi ekselsa di Jawa Timur, kopi ekselsa Wonosalam belum optimal, baik dari sisi produksi, panen, maupun pascapanen dan terutama soal pemasaran.

Bahkan beberapa tahun lalu sempat terjadi penurunan luasan lahan produksi dan produktivitasnya yang disebabkan beberapa faktor. Salah satunya, penurunan produksi tersebut disebabkan minimnya penguasaan petani tentang teknologi pengelolaan kebun kopi serta lahan kopi ekselsa yang berkurang.

Namun demikian, setidaknya dalam kurun waktu lima tahun terakhir kopi ekselsa Wonosalam mulai menggeliat dan menebarkan aroma eksotisnya.

Tentu saja banyak pemicu yang memunculkannya. Salah satunya adalah adanya keterlibatan kaum muda, khususnya generasi milenial yang mulai menggeluti bidang perkopian dalam beberapa tahun terakhir ini karena dianggap memiliki prospek yang menjanjikan.

Mereka sebagian adalah generasi yang orangtuanya sebelumnya sudah menjadi petani kopi. Sebagian lagi adalah anak-anak muda yang memang tertarik dengan dunia perkopian meskipun tidak mempunyai ‘genetik’ petani kopi.

Dukungan pemerintah Kabupaten Jombang Melalui Dinas Pertanian dalam rangka meningkatkan potensi kopi wonosalam baik dari hulu sampai dengan hilir sebagai mana berikut :

– Tahun 2017 telah dibantukan bantuan alat gunting pangkas sejumlah 250 unit (10 Poktan)
– Tahun 2018 telah dibantukan bantuan mesin pulper (pengupas kulit ari) sejumlah 5 unit (5 poktan)
– Tahun 2019 bantuan alat pengukur kadar air 10 alat (5 poktan) dan bantuan mesin pengering kopi sebanyak 5 unit diberikan ke 5 kelompok tani
– Tahun 2020 bantuan mesin huller 2 unit untuk 2 kelompok tani, terpal 100 lembar untuk 4 kelompok tani, bantuan 13.000 batang bibit kopi excelsa yang dibagikan ke 7 kelompok tani dan 50 hand sprayer elektrik untuk 6 kelompok tani
– Tahun 2021 telah dibantukan alat pasca panen pengolah kopi seperti Roasting (alat pemanggang kopi), grinder (alat penghalus kopi) dan sealer (alat pengemas kopi) untuk 3 kelompok tani.
– Tahun 2022 telah dibantukan kegiatan Sekolah Lapang Bagi petani kopi dan pengendalian opt Kopi
– Tahun 2023 dibantukan bibit kopi sebanyak 10.000 batang bagi petani kopu di wonosalam

‘Semua bantuan yang diterimakan kelompok tani juga merupakan ikhtiar pemerintah Kabupaten Jombang dalam rangka pengembangan tanaman kopi yang endingnya merajuk pada peningkatan kesejahteraan petani kopi di kabupaten jombang,” Pungkasnya.

Pada Tahun 2023 Dinas Pertanian telah mendaftarkan “Kopi Excelsa Jombang” untuk memperoleh sertifikat Indikasi Geografis Kopi dan sudah dalam tahap akhir (selesai sidang).

Adapun penggunaan sertifikasi Indikasi Geografis pada produk khas suatu wilayah sangat menguntungkan baik bagi produsen (masyarakat lokal yang mengembangkan produk tersebut dari budayanya) maupun bagi konsumen (masyarakat luas dapat merasa aman membeli produk asli dan berkualitas, serta tidak disesatkan), dan bersama Masyarakat Peduli Indikasi Geografis Kopi kedepan harapannya kopi excelsa wonosalam akan lebih dikenal masyarakat luas dan memiliki nilai tawar yang tinggi di pasar.

Begitu pula pada tahun 2023 Kabupaten Jombang terpilih melalui program Communal Branding yang di inisiasi oleh ibu gubernur propinsi jawa timur. Communal Branding merupakan kegiatan peningkatan kualitas produk, kapasitas kelembagaan, dan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia serta untuk pengembangan promosi dan pemasaran di bawah satu merek yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (community) secara bersama-sama.

Produk kopi yang dikemas melalui Communal Branding mempunyai merk “JAVEAST COFFEE” dan tergabung dalam wadah Koperasi yang terdiri dari beberapa wilayah, antara lain Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Kabupaten Jember, Desa Wonosalam Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang, dan Desa Kare Kecamatan Kare Kabupaten Madiun.

Ekspor perdana kopi excelsa wononosalam yang dihadiri oleh Ibu Gubernur Jawa Timur sebanyak 12 ton menjadi momentum yang sangat baik dalam hal promosi produk unggulan Kabupaten Jombang, sehingga harus diperhatikan stok kopi excelsa apakah tersedia atau tidak jika ada pesananan dari pihak bayer/ pembeli dengan jumlah banyak hal ini senada dengan Ibu Bupati Jombang yang turut serta mendampingi Ibu Gubernur Jawa Timur dalam rangka misi dagang ke 3 negara timur tengah dalam rangka mengenalkan produk unggulan kabupaten Jombang yaitu kopi excelsa wonosalam. (Cwr)

 

Editor : April

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *