Nganjuk, Liputan10.id – Suasana Desa Ngringin, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, tampak berbeda sejak pagi hari. Ribuan warga tumpah ruah memadati area desa untuk mengikuti Sedekah Desa Ngringin, sebuah tradisi tahunan yang sarat makna spiritual dan sosial. Acara ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk bersyukur atas rezeki hasil bumi dan memohon keberkahan untuk tahun-tahun mendatang.
Tradisi yang Mengakar dan Terus Dilestarikan
Sedekah desa merupakan tradisi turun-temurun yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Warga mempersembahkan hasil bumi, makanan tradisional, serta doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara ini juga diyakini sebagai bentuk permohonan agar desa senantiasa dijauhkan dari mara bahaya dan diberi keberkahan.
Tahun ini, Sedekah Desa Ngringin mengusung tema pelestarian budaya dan memperkuat persatuan masyarakat. Dari pemuda hingga lansia, seluruh lapisan masyarakat terlibat aktif dalam mempersiapkan dan mengikuti rangkaian kegiatan, mulai dari bersih desa, kirab budaya, hingga pertunjukan seni tradisional.
Hadirnya Unsur Tiga Pilar dan Tokoh Masyarakat
Acara ini turut dihadiri oleh perwakilan dari unsur tiga pilar – yaitu Babinsa (TNI), Bhabinkamtibmas (Polri), dan Kepala Desa Ngringin. Ketiganya tampil dalam spanduk utama penyambutan, menunjukkan sinergi dan komitmen dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran acara.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Ngringin menyampaikan bahwa Sedekah Desa bukan sekadar seremoni adat, tetapi juga momen penting untuk merajut kebersamaan. “Di tengah arus modernisasi, kita tetap menjaga akar budaya dan adat istiadat yang menjadi jati diri desa kita,” ujarnya.
Sementara itu, Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga menyatakan dukungannya terhadap acara yang memperkuat nilai-nilai gotong royong dan kearifan lokal. Kehadiran mereka turut memberikan rasa aman kepada masyarakat yang hadir.
Rangkaian Acara: Dari Kirab Budaya hingga Hiburan Rakyat
Rangkaian kegiatan Sedekah Desa dimulai sejak pagi hari dengan doa bersama dan selamatan tumpeng. Selanjutnya, warga melakukan kirab budaya yang menampilkan pakaian adat dan hasil bumi lokal. Tidak ketinggalan, berbagai pertunjukan seni tradisional seperti jaranan, campursari, dan wayang kulit juga menjadi daya tarik utama.
Di area pasar rakyat, pedagang lokal menjajakan aneka makanan khas seperti tiwul, cenil, gethuk, dan jajanan pasar lainnya. Anak-anak pun terlihat gembira dengan adanya wahana permainan tradisional yang disediakan panitia.
Antusiasme Warga dan Harapan ke Depan
Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Banyak warga rantau yang sengaja pulang kampung untuk mengikuti momen ini. Salah seorang warga, Sutaji (56), mengatakan, “Saya rela cuti kerja di Surabaya demi ikut sedekah desa. Ini adalah bagian dari hidup saya sejak kecil, dan saya ingin anak cucu saya juga mengenalnya,” ucapnya.
Panitia penyelenggara berharap Sedekah Desa Ngringin bisa menjadi agenda tahunan yang terus diperbaiki dari segi pelaksanaan dan promosi, bahkan berpotensi dikembangkan menjadi wisata budaya desa. (lis)
![]()
